Hubungan Perilaku Remaja Berisiko Terhadap Prestasi Belajar di Sekolah

TUGAS AKHIR
“Hubungan Perilaku Remaja Berisiko Terhadap Prestasi Belajar di Sekolah”

Disusun untuk memenuhi Tugas Akhir pada Mata Kuliah “Psikologi Perkembangan Lanjut”

Dosen Pengampu :
Moesarofah, M.Psi

Description: logo%20corel%20unipa-sbyx


Disusun Oleh :
Siti Nur Mahmudah
(NIM : 16000011)


UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
Juli 2017
PERMASALAHAN

Anak yang bermasalah seringkali dikaitkan dengan perilaku yang negative, begitu juga dengan remaja yang beresiko. Remaja beresiko rentan berperilaku melakukan hal yang negative juga. Apa yang telah kita lakukan pada teman-teman, anak-anak atau keluarga yang telah dicap sebagai anak bermasalah? Anak dan remaja dengan masalah kecanduan, perilaku seks tidak aman, dan remaja yang terkena Human Immuno-deficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS). Anak bermasalah sering dilihat sebagai anak yang retak, seperti barang yang telah rusak. Banyak pertanyaan muncul mengenai perilaku remaja beresiko berpengaruh terhadap prestasi belajar di sekolah, apakah itu benar?.
Sekolah merupakan kebutuhan sekaligus menjadi kewajiban pada jaman sekarang ini. Kemendikbud telah mengupayakan agar wajib belajar 12 tahun melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bisa terlaksana. Betapa pentingnya dunia pendidikan. Prestasi belajar di sekolah sangat ditentukan oleh individu itu sendiri. Apa yang terjadi jika indivisu tersebut beresiko?. Ada atau tidak pengaruhnya akan saya bahas dalam makalah ini.




PEMBAHASAN

A.    Remaja dan Perilaku Beresiko
Pada masa remaja, perubahan biologis, psikologis, dan sosial terjadi dengan pesat. Hal ini menuntut perubahan perilaku remaja untuk menyesuaikan diri dengan kondisi mereka saat ini. Pada beberapa remaja, proses penyesuaian ini bisa berlangsung tanpa masalah berarti karena mereka berhasil mengenali identitas diri dan mendapat dukungan sosial yang cukup. Kedua hal tersebut penting berperan dalam penyesuaian diri remaja. Namun sebagian remaja yang lain dapat mengalami persoalan penyesuaian diri. Kesulitan penyesuaian diri remaja biasanya diawali dengan munculnya perilaku-perilaku yang beresiko menimbulkan persoalan psikososial remaja baik pada level personal maupun sosial. Di Indonesia diketahui sebagian remaja terlibat dalam perilaku-perilaku beresiko terhadap kesehatan mentalnya, seperti: mengebut dan berakibat kecelakaan; kekerasan/tawuran/bullying; kekerasan dalam pacaran; kehamilan yang tidak direncanakan; perilaku seks beresiko; terkena penyakit menular seksual seperti hepatitis dan HIV-AIDS; merokok dan penyalahgunaan alkohol pada usia dini; penggunaan ganja dan zat-zat adiktif lainnya (untuk lebih detail lihat tabel 1). Perilaku beresiko remaja membuat mereka sering dicap sebagai anak-remaja bermasalah dan akhirnya mereka diperlakukan secara negatif dari lingkungan sosialnya. Perilaku beresiko remaja adalah bentuk perilaku yang dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan (well-being) remaja, bahkan beberapa bentuk perilaku beresiko dapat merugikan orang lain.






Tabel 1. 9 Masalah yang banyak dihadapi remaja Indonesia
Masalah-masalah remaja
  1. Perokok aktif: Perempuan: 0,7%; sedangkan lelaki: 47,0%
  2. Peminum alkohol aktif: perempuan: 3,7%; lelaki: 15,5 %
  3. Lelaki pengguna zat adiksi dihisap: 2,3%; dihirup: 0,3 %; ditelan 1,3%
  4. Pengalaman seksual pada perempuan: 1,3%; lelaki: 3,7%
  5. Lelaki yang memiliki pengalaman seks untuk pertama kali pada usia: <15 tahun: 1,0%; usia 16 tahun : 0,8%; usia 17 tahun: 1,2%; usia 18 tahun: 0,5%; usia 19 tahun: 0,1%
  6. Alasan melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum menikah pada remaja berusia 15-24 tahun ialah: Untuk perempuan alasan tertinggi adalah karena terjadi begitu saja (38,4%); dipaksa oleh pasangannya (21,2%). Sedangkan pada lelaki, alasan tertinggi ialah karena ingin tahu (51,3%); karena terjadi begitu saja (25,8%)
  7. Delapan puluh empat orang (1%) dari responden pernah mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, 60% di antaranya mengalami atau melakukan aborsi
  8. Persentase kasus AIDS pada pengguna napza suntik di Indonesia berdasarkan jenis kelamin, yaitu: lelaki: 91,8%; perempuan: 7,5%; tidak diketahui: 0,7%
  9. Prevalensi kecenderungan gangguan mental-emosional remaja usia 15-24 tahun ke atas (berdasarkan self report questionnaire) menurut karakteristik responden adalah: 8,7%

Sumber: Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007 pada remaja perempuan dan laki-laki berusia 15-19 tahun yang tidak menikah.
Perlakuan negatif pada anak-remaja bermasalah dapat terjadi karena disebabkan pemahaman yang kurang tepat atas perilaku beresiko. Sering perilaku beresiko hanya dilihat sebagai akibat kenakalan remaja semata, akibatnya orang segera mengambil keputusan untuk ”memperbaiki” si remaja bermasalah. Perilaku beresiko remaja yang disebabkan oleh gangguan penyesuaian diri muncul karena dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri remaja (internal) maupun faktor dari luar diri (eksternal).
Faktor internal meliputi: 1) Problem psikologis dan sosial yang sedang dihadapi. Menghadapi masa remaja yang penuh tantangan membuat remaja rentan menghadapi tekanan, akibatnya dapat muncul persoalan psikologis seperti stress dan depresi. Belum lagi jika ditambah remaja dengan kebutuhan khusus dan gangguan psikopatologis. 2) Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak terbiasa mengendalikan diri dan mempertahankan usaha untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, cenderung mudah terlena untuk mendapatkan kenikmatan instant dengan melakukan perilaku beresiko, yang justru pada akhirnya malah menambah persoalan baru.
Beberapa faktor eksternal diantaranya adalah: 1) Persoalan keluarga. Pendidikan nilai yang salah di keluarga, problem komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Hubungan orang tua-anak yang kurang harmonis dan otoriter membuat remaja sulit terbuka menyampaikan persoalan yang dihadapinya pada orang tua, akibatnya anak kesulitan menyelesaikan persoalannya dan terjerumus dalam perilaku beresiko. 2) Pengaruh negatif teman sebaya. Sikap dan perilaku teman sebaya yang negatif juga dapat mempengaruhi perilaku remaja. Upaya remaja untuk dapat diterima di kelompok sebayanya membuat mereka mudah terpengaruh dan sulit menolak ajakan teman, bahkan untuk hal yang dapat merugikan diri atau orang di sekitarnya. 3) Pengaruh negatif komunitas. Kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, komunitas yang acuh dan permisif pada pelanggaran dapat membuat remaja lebih rentan terjerumus dalam perilaku beresiko dan menghambat perkembangan diri remaja.
Dengan  mengetahui berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi problem remaja, maka penting kita pahami bahwa penanganannya perlu dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya remaja yang ditarget untuk ”dirubah” tapi juga lingkungan sekitarnya yang juga turut mempengaruhi munculnya perilaku beresiko tersebut. Contohnya: perilaku kecanduan yang disebabkan oleh ketidak-mampuan remaja mengelola stress dari problem keluarga dan tekanan sosial dari teman sebaya, maka harus dihadapi dengan cara mengembangkan kemampuan pengelolaan persoalan keluarga dan sikap asertif pada teman sebaya; dan lebih jauh lagi perlu mempertimbangkan pembuatan kebijakan sosial untuk menghadapi persoalan kecanduan di sekolah dan di masyarakat. Karena tidaklah mungkin menghadapi persoalan perilaku beresiko remaja tanpa koordinasi dan kerjasama antar berbagai pihak yang terlibat, dalam hal ini orang-tua dan keluarga, sekolah, lingkungan rumah, serta masyarakat.

B.     Hubungan Perilaku Beresiko Remaja Terhadap Prestasi di Sekolah
Remaja beresiko rentan berperilaku beresiko juga. Artinya, remaja yang beresiko rentan melakukan hal-hal atau perbuatan yang negative yang mengarah pada kenakalan remaja seperti halnya merokok, penyalahgunaan zat adiktif, seks bebas, dan lain sebagainya. Lantas apakah hal tersebut memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar di sekolah?. Remaja yang beresiko rata-rata memiliki prestasi akademik yang menurun dibandingkan dengan mereka yang tidak beresiko. Siswa yang mempunyai perilaku merokok, perilaku mengkonsumsi minuman beralkohol, perilaku menonton TV/film porno, perilaku seksual berisiko cenderung prestasi belajarnya kurang dari pada siswa yang tidak berperilaku berisiko. Siswa yang mempunyai perilaku mengkonsumsi Napza cenderung prestasi belajarnya sama dengan siswa yang tidak mengkonsumsi Napza (Mananta, 2008).
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor yang berasal dari dalam individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar antara lain inteligensi, bakat, minat, perhatian, motivasi, cara orang tua mendidik, keadaan ekonomi, fasilitas sekolah, lingkungan sosial.
Masa remaja adalah masa yang rentan karena pada masa itu remaja masih mencari konsep dirinya sehingga mereka senang mencoba hal-hal yang baru. Terkadang sesuatu yang baru tersebut langsung diterima oleh remaja tanpa disaring terlebih dahulu. Hal ini terjadi karena remaja belum memiliki kontrol diri yang kuat. Kontrol diri yang lemah ditambah lingkungan terdekat yakni keluarga kurang mendukung seperti keluarga yang gagal, sering terjadi pertengkaran antar anggota keluarga, tidak peduli antar sesama anggota keluarga membuat remaja mencari aktifitas di luar sebagai usaha untuk mencari perhatian dari anggota keluarganya atau mencari rasa aman yang tidak didapatkan dalam keluarganya. Perilaku remaja di luar dapat memberikan efek yang baik maupun buruk. Apabila lingkungan tersebut lingkungan masyarakat yang baik-baik, beragama dan penuh etika sosial tentu tidak masalah. Namun apabila lingkungan di luar itu buruk seperti anggota masyarakatnya sering melakukan tindakan kriminal, sering minum-minuman keras atau obat-obatan terlarang akan sangat membahayakan bagi remaja. Lingkungan yang buruk tersebut sangat mudah mempengaruhi remaja karena sifat remaja yang senang mencoba hal-hal yang baru dan belum memiliki kontrol diri yang kuat membuat remaja mudah untuk melakukan perbuatan yang menyimpang Perilaku negatif tersebut dapat disebabkan sebagai cara untuk mencari perhatian dari anggota keluarga, teman-temannya atau sebagai kompensasi dari rasa inferiornya karena merasa ditolak di dalam keluarga atau masyarakat. Perilaku yang negatif seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, mencuri, senang berkelahi disebut juga kenakalan remaja.
Kenakalan remaja seperti minum-minuman keras dan menggunakan obatobatan sangat merugikan dan membahayakan remaja khususnya sebagai siswa. Karena efek yang ditimbulkan dari minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang tersebut membuat siswa menjadi kurang konsentrasi dan malas untuk belajar, dan dalam jangka panjang dapat membahayakan jiwa penggunanya. Sudah banyak jiwa yang melayang akibat penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol tersebut (Sarwono. 2003).
Membolos mengakibatkan siswa tidak memperoleh ilmu karena tidak mengikuti aktifitas belajar seperti mencatat, mengerjakan latihan-latihan dan mendengarkan penjelasan guru. Pada saat dilakukan evaluasi hasilnya tidak memuaskan. Ikut kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan belajar seperti ikut geng-geng kriminal membuat siswa kehilangan waktu belajarnya karena sibuk menghabiskan waktu bersama kelompoknya tersebut. Perilaku-perilaku tersebut dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar adalah inteligensi. Dalam penelitian Tundjing (2001), prestasi belajar siswa berkorelasi positif dengan inteligensi. Semakin tinggi inteligensi yang dimiliki siswa semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Menurut Purwanto (2002) dan Wechsler (Azwar, 1996), inteligensi sebagai sebuah kemampuan yang dibawa sejak lahir, dan sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif. Banyak 14 orang berpendapat bahwa siswa yang mempunyai inteligensi tinggi akan berhasil dalam mencapai prestasi belajar baik. Namun tidak sedikit yang mempunyai inteligensi yang tidak begitu tinggi atau rata-rata justru mempunyai prestasi belajarnya lebih baik daripada siswa yang mempunyai inteligensi lebih tinggi. Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa inteligensi hanya sebagai salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.

C.    Mencegah Perilaku Beresiko Remaja
Upaya pencergahan perilaku beresiko yang paling banyak dilakukan adalah melalui penyuluhan atau pada program kesehatan. Upaya tersebut adalah usaha pencegahan perilaku beresiko remaja, terutama tentang perilaku seks beresiko dan penyalahgunaan zat adiktif. Namun program-program ini lebih banyak bergerak dalam pemberian informasi, berupa penyuluhan dan diskusi tentang masalah kesehatan remaja. Penyuluh biasanya berperan sebagai fasilitator dan narasumber informasi. Sering juga terjadi adalah bentuk dan cara penyampaian informasi kesehatan remaja direduksi dan diseleksi sedemikian rupa oleh pihak sekolah atau orang tua agar pemahaman remaja dianggap ”tidak melanggar norma sosial-religius” di masyarakat. Lebih lanjut, isi informasi juga kadang kurang mempertimbangkan tahapan perkembangan psikologis remaja, akibatnya informasi yang diberikan  belum tentu menyentuh kebutuhan dan tantangan kesehatan reproduksi remaja yang sesungguhnya saat ini.
Remaja terjerumus dalam perilaku beresiko seringkali terjadi bukan karena persoalan kurangnya informasi, namun karena remaja melakukan perilaku yang tidak konsisten dengan sikapnya, contohnya: mengetahui bahwa ia belum siap melakukan perilaku seksual namun ketika diminta oleh pacarnya akhirnya melakukan perilaku seksual. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan informasi atau kelemahan kognitif sehingga mereka tidak mampu berpikir tentang alternatif lain, namun lebih dikarenakan keterbatasan pengalaman sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang kurang tepat. Ketersediaan akses dan informasi yang lengkap dapat mempengaruhi keterampilan remaja dalam mengambil keputusan untuk berperilaku sehat. Remaja perlu memahami bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan menghasilkan konsekuensi yang harus ditanggung seumur hidupnya baik secara fisik, psikis dan sosial.
Di era globalisasi ini, akses informasi cukup luas, termasuk informasi tentang berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku beresiko remaja. Oleh karena itu, yang lebih diperlukan oleh remaja bukan sekedar informasi namun lebih penting bagaimana mengembangkan cara-cara pengelolaan diri remaja. Secara personal, program kesehatan remaja dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan pengendalian diri dan perilaku produktif untuk dapat menghadapi perubahan identitas perannya sebagai remaja. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja sebaiknya mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik, atau juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
Selain itu, penting juga mengkondisikan faktor-faktor di luar diri remaja agar dapat mendukung kemampuan pengelolaan diri remaja, seperti, seperti: hubungan dengan orang tua dan teman sebaya. Sebaiknya orangtua juga mau berupaya untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. Pola asuh dan komunikasi orang-tua dan anak diupayakan menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan perkembangan remaja, orang-tua akan berperan sebagai support system bagi si remaja sehingga remaja yang merasa aman dan diterima orang-tuanya akan lebih mampu menghadapi tantangan perubahan masa remaja. Dalam hubungan dengan teman sebaya, remaja perlu mengembangkan ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika sikap dan perilaku teman sebaya atau komunitas tidak produktif atau bahkan dapat merugikan diri dan masa depan remaja. Pada umumya, waktu remaja lebih banyak dihabiskan di sekolah, sehingga lingkungan sekolah juga dapat dipandang sebagai tantangan dunia remaja. Maka sistim pendidikan di sekolah perlu menyeimbangkan perkembangan aspek kognitif dan juga aspek kepribadian agar si remaja lebih mampu mengembangkan keterampilan hidup di sekolah. Lebih lanjut, aspek demografis juga perlu diperhatikan karena kebutuhan kesehatan reproduksi remaja di berbagai wilayah di Indonesia juga dapat berbeda karena dipengaruhi oleh aspek sosial, budaya, serta historis-geografis (perkotaan-pedesaan).
Selain upaya-upaya tersebut, ada suatu hal yang bisa mencegah perilaku beresiko yaitu resiliensi. Menurut Richardson, dkk dalam Henderston dan Milsten (2003) Resiliensi merupakan proses mengatasi masalah seperti gangguan, kekacauan, tekanan, atau tantangan hidup, yang pada akhirnya membekali individu dengan perlindungan tambahan dan kemampuan untuk mengatasi masalah sebagai hasil dari situasi yang dihadapi. Remaja yang resiliendicirikan sebagai individu yang memiliki kompetensi secara social, dengan ketrampilan-ketrampilan hidup seperti: pemecahan masalah, berpikir kritis, kemampuan mengambil inisiatif, kesadaran akan tujuan dan prediksi masa depan yang positif bagi dirinya sendiri. Mereka memiliki minat-minat khusus, tujuan-tujuan yang terarah, dan motivasi untuk berprestasi di sekolah dan dalam kehidupan (Henderson & Milstein, 2003)

D.    Menghadapi Remaja dengan Perilaku Beresiko
Peran semua bagian masyarakat sangat dibutuhkan untuk menghadapi persoalan perilaku beresiko remaja, baik sebagai orang-tua, teman, guru, saudara, atau sebagai individu yang peduli atas persoalan remaja. Sekali lagi, penting dipahami persoalan ini tidak bisa dihadapi dengan cara pendekatan ”memperbaiki” anak rusak, atau menyingkirkan mereka dari lingkungan sekolah, atau mengucilkan mereka dari lingkungan sosial dengan harapan agar remaja lain tidak meniru mereka. Cara-cara tersebut justru akan memperburuk kesehatan dan kesejahteraan remaja yang bermasalah tadi. Selain memperhatikan berbagai faktor internal dan eksternal tadi, adalah tugas kita untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan mereka dengan cara membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup (life skills). Beberapa keterampilan hidup yang perlu diolah adalah: pemahaman diri dan kemampuan membuat perencanaan hidup, kemampuan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, kemampuan komunikasi efektif, kemampuan empati dan membangun relasi interpersonal, serta kemampuan pengendalian emosi dan pengelolaan stress.
Keterampilan hidup yang penting dikembangkan adalah kemampuan remaja agar dapat mengenali masalahnya, lalu berpikir untuk dapat mengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukannya dalam mengatasi masalah tersebut. Selanjutnya, perlu dikembangkan pula pengetahuan dan keterampilan remaja agar mampu untuk menjadi individu yang lebih efektif mengatasi kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya, serta meningkatkan kewaspadaan remaja atas persoalan hidup yang mungkin terjadi pada dirinya. Keterampilan-keterampilan hidup ini lebih efektif dikembangkan dalam proses pendampingan, karena hal ini muncul dari proses belajar dan berlatih. Oleh karena itu, peran pendampingan ini selayaknya diberikan oleh orang-orang terdekat remaja seperti orang-tua, guru, dan teman. Seluruh komponen masyarakat juga bersiap mengarahkan remaja untuk dapat keluar dari masalahnya serta menyediakan dukungan mereka untuk pengembangan keterampilan sosialnya. Terakhir, perlu dikembangkan motivasi remaja untuk mencari segera bantuan, baik bantuan familial ataupun profesional jika menghadapi persoalan yang kompleks bagi dirinya, artinya remaja tahu apa dan dimana mencari bantuan bila menghadapi masalah yang tidak dapat mereka kelola secara mandiri. Dalam hal ini peran psikolog, pekerja sosial, psikiater dan berbagai profesi kesehatan mental perlu diberdayakan secara efektif. Dengan cara-cara ini, remaja diberikan kesempatan dan akses seluas-luasnya agar mampu mengembangkan perilaku positif dan produktif di masyarakatnya.



 KESIMPULAN

Anak yang bermasalah seringkali dikaitkan dengan perilaku yang negative, begitu juga dengan remaja yang beresiko. Remaja beresiko rentan berperilaku melakukan hal yang negative juga. Anak bermasalah sering dilihat sebagai anak yang retak, seperti barang yang telah rusak. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilako beresiko baik factor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi: 1) Problem psikologis dan sosial yang sedang dihadapi, 2) Kontrol diri yang lemah. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah: 1) Persoalan keluarga. 2) Pengaruh negatif teman sebaya, 3Pengaruh negatif komunitas.
Remaja yang beresiko rata-rata memiliki prestasi akademik yang menurun dibandingkan dengan mereka yang tidak beresiko. Siswa yang mempunyai perilaku merokok, perilaku mengkonsumsi minuman beralkohol, perilaku menonton TV/film porno, perilaku seksual berisiko cenderung prestasi belajarnya kurang dari pada siswa yang tidak berperilaku berisiko. Siswa yang mempunyai perilaku mengkonsumsi Napza cenderung prestasi belajarnya sama dengan siswa yang tidak mengkonsumsi Napza (Mananta, 2008).
Upaya pencergahan perilaku beresiko diantaranya yaitu:
1.              penyuluhan atau pada program kesehatan (biasanya berupa informasi mengenai kesehatan)
2.              Remaja perlu memahami bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan menghasilkan konsekuensi yang harus ditanggung seumur hidupnya baik secara fisik, psikis dan sosial.
3.       Remaja sebaiknya mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik
4.       Pola asuh dan komunikasi orang tua dan anak diupayakan menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan perkembangan remaja, orang-tua akan berperan sebagai support system bagi si remaja
5.       Dalam hubungan dengan teman sebaya, remaja perlu mengembangkan ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika sikap dan perilaku teman sebaya atau komunitas tidak produktif atau bahkan dapat merugikan diri dan masa depan remaja
6.       Resiliensi
























DAFTAR PUSTAKA
Dekovic, M. (1999). Risk and protective factors in the development of problem behavior during adolescence. Journal of Youth and Adolescence, 28, 667-685.
            Rahman Arief., Uly Gusniarti. Hubungan Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar.
            Mananta Opyn. 2008. Hubungan Perilaku BeresikoTerhadap Prestasi Belajar Siswa SMAN 1 Lore Selatan Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah. Makasar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar.
            Masdianah. 2010. Hubungan Antara Resiliensi dengan Prestasi Belajar Anak Binaan Yayasan Smart Ekselensia Indonesia. Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayahtullah Jakarta
           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH BK DI AMERIKA DAN DI INDONESIA

COUNSELING (CONVERSATION)