Hubungan Perilaku Remaja Berisiko Terhadap Prestasi Belajar di Sekolah
TUGAS
AKHIR
“Hubungan
Perilaku Remaja Berisiko Terhadap Prestasi Belajar di Sekolah”
Disusun untuk
memenuhi Tugas Akhir pada Mata Kuliah “Psikologi Perkembangan Lanjut”
Dosen Pengampu :
Moesarofah, M.Psi

Disusun Oleh :
Siti Nur
Mahmudah
(NIM : 16000011)
UNIVERSITAS PGRI
ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING
Juli 2017
PERMASALAHAN
Anak yang bermasalah seringkali dikaitkan
dengan perilaku yang negative, begitu juga dengan remaja yang beresiko. Remaja
beresiko rentan berperilaku melakukan hal yang negative juga. Apa yang telah
kita lakukan pada teman-teman, anak-anak atau keluarga yang telah dicap sebagai
anak bermasalah? Anak dan remaja dengan masalah kecanduan, perilaku seks tidak
aman, dan remaja yang terkena Human Immuno-deficiency
Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS). Anak
bermasalah sering dilihat sebagai anak yang retak, seperti barang yang telah
rusak. Banyak pertanyaan muncul mengenai perilaku remaja beresiko berpengaruh terhadap
prestasi belajar di sekolah, apakah itu benar?.
Sekolah merupakan kebutuhan sekaligus menjadi
kewajiban pada jaman sekarang ini. Kemendikbud telah mengupayakan agar wajib
belajar 12 tahun melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bisa terlaksana. Betapa
pentingnya dunia pendidikan. Prestasi belajar di sekolah sangat ditentukan oleh
individu itu sendiri. Apa yang terjadi jika indivisu tersebut beresiko?. Ada
atau tidak pengaruhnya akan saya bahas dalam makalah ini.
PEMBAHASAN
A. Remaja dan
Perilaku Beresiko
Pada masa remaja, perubahan biologis,
psikologis, dan sosial terjadi dengan pesat. Hal ini menuntut perubahan
perilaku remaja untuk menyesuaikan diri dengan kondisi mereka saat ini. Pada
beberapa remaja, proses penyesuaian ini bisa berlangsung tanpa masalah berarti
karena mereka berhasil mengenali identitas diri dan mendapat dukungan sosial
yang cukup. Kedua hal tersebut penting berperan dalam penyesuaian diri remaja.
Namun sebagian remaja yang lain dapat mengalami persoalan penyesuaian diri.
Kesulitan penyesuaian diri remaja biasanya diawali dengan munculnya
perilaku-perilaku yang beresiko menimbulkan persoalan psikososial remaja baik
pada level personal maupun sosial. Di Indonesia diketahui sebagian remaja
terlibat dalam perilaku-perilaku beresiko terhadap kesehatan mentalnya,
seperti: mengebut dan berakibat kecelakaan; kekerasan/tawuran/bullying; kekerasan dalam pacaran; kehamilan yang
tidak direncanakan; perilaku seks beresiko; terkena penyakit menular seksual
seperti hepatitis dan HIV-AIDS; merokok dan penyalahgunaan alkohol pada usia
dini; penggunaan ganja dan zat-zat adiktif lainnya (untuk lebih detail lihat
tabel 1). Perilaku beresiko remaja membuat mereka sering dicap sebagai
anak-remaja bermasalah dan akhirnya mereka diperlakukan secara negatif dari
lingkungan sosialnya. Perilaku beresiko remaja adalah bentuk perilaku yang
dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan (well-being) remaja,
bahkan beberapa bentuk perilaku beresiko dapat merugikan orang lain.
Tabel 1. 9 Masalah yang banyak dihadapi remaja Indonesia
Masalah-masalah remaja
|
|
Sumber: Survei Kesehatan Reproduksi Remaja
Indonesia (SKRRI) tahun 2007 pada remaja perempuan dan laki-laki berusia 15-19
tahun yang tidak menikah.
Perlakuan negatif pada anak-remaja bermasalah dapat terjadi
karena disebabkan pemahaman yang kurang tepat atas perilaku beresiko. Sering
perilaku beresiko hanya dilihat sebagai akibat kenakalan remaja semata,
akibatnya orang segera mengambil keputusan untuk ”memperbaiki” si remaja
bermasalah. Perilaku beresiko remaja yang disebabkan oleh gangguan penyesuaian
diri muncul karena dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri remaja (internal)
maupun faktor dari luar diri (eksternal).
Faktor internal meliputi: 1) Problem psikologis dan sosial
yang sedang dihadapi. Menghadapi masa remaja yang penuh tantangan
membuat remaja rentan menghadapi tekanan, akibatnya dapat muncul persoalan
psikologis seperti stress dan depresi. Belum lagi jika ditambah remaja dengan
kebutuhan khusus dan gangguan psikopatologis. 2) Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak
terbiasa mengendalikan diri dan mempertahankan usaha untuk mencapai tujuan yang
lebih tinggi, cenderung mudah terlena untuk mendapatkan kenikmatan instant
dengan melakukan perilaku beresiko, yang justru pada akhirnya malah menambah
persoalan baru.
Beberapa faktor eksternal diantaranya adalah: 1) Persoalan keluarga. Pendidikan nilai yang salah
di keluarga, problem komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan
keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Hubungan orang tua-anak yang
kurang harmonis dan otoriter membuat remaja sulit terbuka menyampaikan persoalan
yang dihadapinya pada orang tua, akibatnya anak kesulitan menyelesaikan
persoalannya dan terjerumus dalam perilaku beresiko. 2) Pengaruh negatif teman sebaya. Sikap dan perilaku
teman sebaya yang negatif juga dapat mempengaruhi perilaku remaja. Upaya remaja
untuk dapat diterima di kelompok sebayanya membuat mereka mudah terpengaruh dan
sulit menolak ajakan teman, bahkan untuk hal yang dapat merugikan diri atau
orang di sekitarnya. 3) Pengaruh negatif komunitas.
Kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, komunitas yang acuh dan permisif pada
pelanggaran dapat membuat remaja lebih rentan terjerumus dalam perilaku
beresiko dan menghambat perkembangan diri remaja.
Dengan mengetahui berbagai faktor internal dan eksternal
mempengaruhi problem remaja, maka penting kita pahami bahwa penanganannya perlu
dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya remaja yang ditarget untuk ”dirubah”
tapi juga lingkungan sekitarnya yang juga turut mempengaruhi munculnya perilaku
beresiko tersebut. Contohnya: perilaku
kecanduan yang disebabkan oleh ketidak-mampuan remaja mengelola stress dari problem keluarga dan tekanan sosial
dari teman sebaya, maka harus dihadapi dengan cara mengembangkan kemampuan
pengelolaan persoalan keluarga dan sikap asertif pada teman sebaya; dan lebih
jauh lagi perlu mempertimbangkan pembuatan kebijakan sosial untuk menghadapi
persoalan kecanduan di sekolah dan di masyarakat. Karena tidaklah mungkin
menghadapi persoalan perilaku beresiko remaja tanpa koordinasi dan kerjasama
antar berbagai pihak yang terlibat, dalam hal ini orang-tua dan keluarga,
sekolah, lingkungan rumah, serta masyarakat.
B. Hubungan Perilaku Beresiko Remaja Terhadap
Prestasi di Sekolah
Remaja beresiko rentan berperilaku
beresiko juga. Artinya, remaja yang beresiko rentan melakukan hal-hal atau perbuatan
yang negative yang mengarah pada kenakalan remaja seperti halnya merokok,
penyalahgunaan zat adiktif, seks bebas, dan lain sebagainya. Lantas apakah hal
tersebut memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar di sekolah?. Remaja yang
beresiko rata-rata memiliki prestasi akademik yang menurun dibandingkan dengan
mereka yang tidak beresiko. Siswa yang mempunyai perilaku
merokok, perilaku mengkonsumsi minuman beralkohol, perilaku menonton TV/film
porno, perilaku seksual berisiko cenderung prestasi belajarnya kurang dari pada
siswa yang tidak berperilaku berisiko. Siswa yang mempunyai perilaku mengkonsumsi
Napza cenderung prestasi belajarnya sama dengan siswa yang tidak mengkonsumsi
Napza (Mananta, 2008).
Banyak
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain
adalah faktor yang berasal dari dalam individu (internal) dan faktor yang
berasal dari luar (eksternal). Faktor internal dan eksternal yang dapat
mempengaruhi prestasi belajar antara lain inteligensi, bakat, minat, perhatian,
motivasi, cara orang tua mendidik, keadaan ekonomi, fasilitas sekolah,
lingkungan sosial.
Masa
remaja adalah masa yang rentan karena pada masa itu remaja masih mencari konsep
dirinya sehingga mereka senang mencoba hal-hal yang baru. Terkadang sesuatu yang
baru tersebut langsung diterima oleh remaja tanpa disaring terlebih dahulu. Hal
ini terjadi karena remaja belum memiliki kontrol diri yang kuat. Kontrol diri
yang lemah ditambah lingkungan terdekat yakni keluarga kurang mendukung seperti
keluarga yang gagal, sering terjadi pertengkaran antar anggota keluarga, tidak
peduli antar sesama anggota keluarga membuat remaja mencari aktifitas di luar
sebagai usaha untuk mencari perhatian dari anggota keluarganya atau mencari
rasa aman yang tidak didapatkan dalam keluarganya. Perilaku remaja di luar
dapat memberikan efek yang baik maupun buruk. Apabila lingkungan tersebut
lingkungan masyarakat yang baik-baik, beragama dan penuh etika sosial tentu
tidak masalah. Namun apabila lingkungan di luar itu buruk seperti anggota
masyarakatnya sering melakukan tindakan kriminal, sering minum-minuman keras
atau obat-obatan terlarang akan sangat membahayakan bagi remaja. Lingkungan
yang buruk tersebut sangat mudah mempengaruhi remaja karena sifat remaja yang
senang mencoba hal-hal yang baru dan belum memiliki kontrol diri yang kuat
membuat remaja mudah untuk melakukan perbuatan yang menyimpang Perilaku negatif
tersebut dapat disebabkan sebagai cara untuk mencari perhatian dari anggota
keluarga, teman-temannya atau sebagai kompensasi dari rasa inferiornya karena
merasa ditolak di dalam keluarga atau masyarakat. Perilaku yang negatif seperti
minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, mencuri, senang
berkelahi disebut juga kenakalan remaja.
Kenakalan
remaja seperti minum-minuman keras dan menggunakan obatobatan sangat merugikan
dan membahayakan remaja khususnya sebagai siswa. Karena efek yang ditimbulkan
dari minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang tersebut membuat siswa
menjadi kurang konsentrasi dan malas untuk belajar, dan dalam jangka panjang
dapat membahayakan jiwa penggunanya. Sudah banyak jiwa yang melayang akibat
penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol tersebut (Sarwono. 2003).
Membolos
mengakibatkan siswa tidak memperoleh ilmu karena tidak mengikuti aktifitas
belajar seperti mencatat, mengerjakan latihan-latihan dan mendengarkan
penjelasan guru. Pada saat dilakukan evaluasi hasilnya tidak memuaskan. Ikut
kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan belajar seperti ikut geng-geng
kriminal membuat siswa kehilangan waktu belajarnya karena sibuk menghabiskan
waktu bersama kelompoknya tersebut. Perilaku-perilaku tersebut dapat
mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor lain yang berpengaruh terhadap
prestasi belajar adalah inteligensi. Dalam penelitian Tundjing (2001), prestasi
belajar siswa berkorelasi positif dengan inteligensi. Semakin tinggi
inteligensi yang dimiliki siswa semakin tinggi pula prestasi belajarnya.
Menurut Purwanto (2002) dan Wechsler (Azwar, 1996), inteligensi sebagai sebuah
kemampuan yang dibawa sejak lahir, dan sebagai kumpulan atau totalitas
kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara
rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif. Banyak 14 orang berpendapat
bahwa siswa yang mempunyai inteligensi tinggi akan berhasil dalam mencapai
prestasi belajar baik. Namun tidak sedikit yang mempunyai inteligensi yang
tidak begitu tinggi atau rata-rata justru mempunyai prestasi belajarnya lebih
baik daripada siswa yang mempunyai inteligensi lebih tinggi. Dari uraian
tersebut menunjukkan bahwa inteligensi hanya sebagai salah satu dari banyak
faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
C. Mencegah
Perilaku Beresiko Remaja
Upaya pencergahan perilaku beresiko yang paling banyak dilakukan
adalah melalui penyuluhan atau pada program kesehatan. Upaya tersebut adalah
usaha pencegahan perilaku beresiko remaja, terutama tentang perilaku seks
beresiko dan penyalahgunaan zat adiktif. Namun program-program ini lebih banyak
bergerak dalam pemberian informasi, berupa penyuluhan dan diskusi tentang
masalah kesehatan remaja. Penyuluh biasanya berperan sebagai fasilitator dan
narasumber informasi. Sering juga terjadi adalah bentuk dan cara penyampaian
informasi kesehatan remaja direduksi dan diseleksi sedemikian rupa oleh pihak
sekolah atau orang tua agar pemahaman remaja dianggap ”tidak melanggar norma
sosial-religius” di masyarakat. Lebih lanjut, isi informasi juga kadang kurang
mempertimbangkan tahapan perkembangan psikologis remaja, akibatnya informasi
yang diberikan belum tentu menyentuh kebutuhan dan tantangan kesehatan
reproduksi remaja yang sesungguhnya saat ini.
Remaja terjerumus dalam perilaku beresiko seringkali terjadi
bukan karena persoalan kurangnya informasi, namun karena remaja melakukan
perilaku yang tidak konsisten dengan sikapnya, contohnya: mengetahui bahwa ia
belum siap melakukan perilaku seksual namun ketika diminta oleh pacarnya
akhirnya melakukan perilaku seksual. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan
informasi atau kelemahan kognitif sehingga mereka tidak mampu berpikir tentang
alternatif lain, namun lebih dikarenakan keterbatasan pengalaman sehingga
mereka dapat mengambil keputusan yang kurang tepat. Ketersediaan akses dan
informasi yang lengkap dapat mempengaruhi keterampilan remaja dalam mengambil
keputusan untuk berperilaku sehat. Remaja perlu memahami bahwa setiap keputusan
yang diambilnya akan menghasilkan konsekuensi yang harus ditanggung seumur
hidupnya baik secara fisik, psikis dan sosial.
Di era globalisasi ini, akses informasi cukup luas, termasuk informasi
tentang berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku beresiko remaja. Oleh karena
itu, yang lebih diperlukan oleh remaja bukan sekedar informasi namun lebih
penting bagaimana mengembangkan cara-cara pengelolaan diri remaja. Secara
personal, program kesehatan remaja dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan
pengendalian diri dan perilaku produktif untuk dapat menghadapi perubahan
identitas perannya sebagai remaja. Kegagalan mencapai identitas peran dan
lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan.
Remaja sebaiknya mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang
telah melampaui masa remajanya dengan baik, atau juga mereka yang berhasil
memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
Selain itu, penting juga mengkondisikan faktor-faktor di luar
diri remaja agar dapat mendukung kemampuan pengelolaan diri remaja, seperti,
seperti: hubungan dengan orang tua dan teman sebaya. Sebaiknya orangtua juga
mau berupaya untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang
harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. Pola asuh dan komunikasi
orang-tua dan anak diupayakan menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan
perkembangan remaja, orang-tua akan berperan sebagai support system bagi si remaja sehingga remaja
yang merasa aman dan diterima orang-tuanya akan lebih mampu menghadapi
tantangan perubahan masa remaja. Dalam hubungan dengan teman sebaya, remaja
perlu mengembangkan ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika sikap dan
perilaku teman sebaya atau komunitas tidak produktif atau bahkan dapat
merugikan diri dan masa depan remaja. Pada umumya, waktu remaja lebih banyak
dihabiskan di sekolah, sehingga lingkungan sekolah juga dapat dipandang sebagai
tantangan dunia remaja. Maka sistim pendidikan di sekolah perlu menyeimbangkan
perkembangan aspek kognitif dan juga aspek kepribadian agar si remaja lebih
mampu mengembangkan keterampilan hidup di sekolah. Lebih lanjut, aspek
demografis juga perlu diperhatikan karena kebutuhan kesehatan reproduksi remaja
di berbagai wilayah di Indonesia juga dapat berbeda karena dipengaruhi oleh
aspek sosial, budaya, serta historis-geografis (perkotaan-pedesaan).
Selain upaya-upaya tersebut, ada suatu hal yang bisa mencegah
perilaku beresiko yaitu resiliensi. Menurut Richardson, dkk dalam Henderston
dan Milsten (2003) Resiliensi merupakan proses mengatasi masalah seperti
gangguan, kekacauan, tekanan, atau tantangan hidup, yang pada akhirnya
membekali individu dengan perlindungan tambahan dan kemampuan untuk mengatasi
masalah sebagai hasil dari situasi yang dihadapi. Remaja yang resiliendicirikan
sebagai individu yang memiliki kompetensi secara social, dengan
ketrampilan-ketrampilan hidup seperti: pemecahan masalah, berpikir kritis,
kemampuan mengambil inisiatif, kesadaran akan tujuan dan prediksi masa depan
yang positif bagi dirinya sendiri. Mereka memiliki minat-minat khusus,
tujuan-tujuan yang terarah, dan motivasi untuk berprestasi di sekolah dan dalam
kehidupan (Henderson & Milstein, 2003)
D. Menghadapi
Remaja dengan Perilaku Beresiko
Peran semua bagian masyarakat sangat dibutuhkan untuk menghadapi
persoalan perilaku beresiko remaja, baik sebagai orang-tua, teman, guru,
saudara, atau sebagai individu yang peduli atas persoalan remaja. Sekali lagi,
penting dipahami persoalan ini tidak bisa dihadapi dengan cara pendekatan
”memperbaiki” anak rusak, atau menyingkirkan mereka dari lingkungan sekolah,
atau mengucilkan mereka dari lingkungan sosial dengan harapan agar remaja lain
tidak meniru mereka. Cara-cara tersebut justru akan memperburuk kesehatan dan
kesejahteraan remaja yang bermasalah tadi. Selain memperhatikan berbagai faktor
internal dan eksternal tadi, adalah tugas kita untuk membantu mereka bangkit
dari keterpurukan mereka dengan cara membantu mereka mengembangkan keterampilan
hidup (life skills). Beberapa keterampilan hidup yang perlu
diolah adalah: pemahaman diri dan kemampuan membuat perencanaan hidup,
kemampuan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, kemampuan komunikasi
efektif, kemampuan empati dan membangun relasi interpersonal, serta kemampuan
pengendalian emosi dan pengelolaan stress.
Keterampilan hidup yang penting dikembangkan adalah kemampuan
remaja agar dapat mengenali masalahnya, lalu berpikir untuk dapat mengambil
keputusan mengenai apa yang harus dilakukannya dalam mengatasi masalah
tersebut. Selanjutnya, perlu dikembangkan pula pengetahuan dan keterampilan
remaja agar mampu untuk menjadi individu yang lebih efektif mengatasi
kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya, serta meningkatkan kewaspadaan
remaja atas persoalan hidup yang mungkin terjadi pada dirinya.
Keterampilan-keterampilan hidup ini lebih efektif dikembangkan dalam proses
pendampingan, karena hal ini muncul dari proses belajar dan berlatih. Oleh
karena itu, peran pendampingan ini selayaknya diberikan oleh orang-orang
terdekat remaja seperti orang-tua, guru, dan teman. Seluruh komponen masyarakat
juga bersiap mengarahkan remaja untuk dapat keluar dari masalahnya serta
menyediakan dukungan mereka untuk pengembangan keterampilan sosialnya.
Terakhir, perlu dikembangkan motivasi remaja untuk mencari segera bantuan, baik
bantuan familial ataupun profesional jika menghadapi persoalan yang kompleks
bagi dirinya, artinya remaja tahu apa dan dimana mencari bantuan bila
menghadapi masalah yang tidak dapat mereka kelola secara mandiri. Dalam hal ini
peran psikolog, pekerja sosial, psikiater dan berbagai profesi kesehatan mental
perlu diberdayakan secara efektif. Dengan cara-cara ini, remaja diberikan
kesempatan dan akses seluas-luasnya agar mampu mengembangkan perilaku positif
dan produktif di masyarakatnya.
KESIMPULAN
Anak yang bermasalah seringkali dikaitkan
dengan perilaku yang negative, begitu juga dengan remaja yang beresiko. Remaja
beresiko rentan berperilaku melakukan hal yang negative juga.
Anak bermasalah sering dilihat
sebagai anak yang retak, seperti barang yang telah rusak. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi perilako beresiko baik factor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi: 1) Problem psikologis dan sosial yang sedang dihadapi,
2) Kontrol diri yang lemah. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah: 1) Persoalan keluarga. 2) Pengaruh negatif teman sebaya,
3) Pengaruh negatif komunitas.
Remaja yang beresiko
rata-rata memiliki prestasi akademik yang menurun dibandingkan dengan mereka
yang tidak beresiko. Siswa yang mempunyai perilaku merokok, perilaku
mengkonsumsi minuman beralkohol, perilaku menonton TV/film porno, perilaku
seksual berisiko cenderung prestasi belajarnya kurang dari pada siswa yang
tidak berperilaku berisiko. Siswa yang mempunyai perilaku mengkonsumsi Napza
cenderung prestasi belajarnya sama dengan siswa yang tidak mengkonsumsi Napza
(Mananta, 2008).
Upaya pencergahan perilaku beresiko diantaranya yaitu:
1.
penyuluhan atau pada
program kesehatan (biasanya berupa informasi mengenai kesehatan)
2.
Remaja perlu memahami
bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan menghasilkan konsekuensi yang harus
ditanggung seumur hidupnya baik secara fisik, psikis dan sosial.
3. Remaja sebaiknya mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang
dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik
4. Pola asuh dan komunikasi orang tua
dan anak diupayakan menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan perkembangan
remaja, orang-tua akan berperan sebagai support system bagi
si remaja
5. Dalam hubungan dengan teman sebaya, remaja perlu mengembangkan
ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika sikap dan perilaku teman
sebaya atau komunitas tidak produktif atau bahkan dapat merugikan diri dan masa
depan remaja
6. Resiliensi
DAFTAR PUSTAKA
Dekovic,
M. (1999). Risk and protective factors in the development of problem behavior
during adolescence. Journal of Youth and Adolescence, 28, 667-685.
Rahman Arief., Uly Gusniarti. Hubungan Kenakalan Remaja dengan Prestasi Belajar.
Mananta
Opyn. 2008. Hubungan Perilaku BeresikoTerhadap
Prestasi Belajar Siswa SMAN 1 Lore Selatan Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi
Tengah. Makasar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
Makasar.
Masdianah.
2010. Hubungan Antara Resiliensi dengan
Prestasi Belajar Anak Binaan Yayasan Smart Ekselensia Indonesia. Fakultas
Psikologi UIN Syarif Hidayahtullah Jakarta
Komentar
Posting Komentar